Judul: To Love....
Tagline: Untuk Cinta Tanpa Menyerah
Sinopsis:
Aku tak pernah menemukan ujung dari tapakan persimpangan dimana kakiku berjalan. Hidupku nyaman dengan teman masa depan. Kamu layaknya daun pagi penanti embun melirih. Basah, tapi tak bersinggah. Cukup. Berhenti tawarkan cinta padaku. Perlu berapa ratus gelas air cinta yang harus pecah tanpa rasa bersalah?
Dan aku. Bukankah sudah jelas aku tunjukkan bahwa api kebahagiaan dalam masa depan yang kita rancang tak punya obor penyalaan??
Maaf Cinta, aku inginkan dia.....
kata, karya, cinta
Senin, 02 Juli 2012
Lihat Aku
Yuk Rangkai 99 Kata Bersama Gagas Media
Senja sedang indah. Dan untuk pertama, kita
duduk berdua di bawah naungan sinarnya. Aku diam, mengatur helaan nafas
yang mulai tak karuan.
“Berhenti tunjukkan pada dunia bahwa kamu
begitu menggilaiku!” katamu singkat dan berlalu. Lagi. Jantungku serasa
berhenti berdetak. Bukan berdebar. Tapi tersambar. Aku terdiam.
Tercengang.
DEAR YOU, my MORNING GLORY. SEANDAINYA MEMILIKIMU layaknya hujan yang melagu, dengan REFRAINnya adalah kamu. Iya, aku JATUH CINTA tanpa syarat padamu. Tidakkah KAU lihat betapa aku terus mengikuti ekor bayangmu? Harus berapa kali aku bersumpah bahwa aku MENDAMBA?? Jika memang harus aku yang menjawab, maka sekarang dan selamanya. Ya, NOW AND THEN.
Sabtu, 08 Oktober 2011
Tuhan, jika aku harus menulis beberapa keajaiban yang aku alami satu tahun penuh ini, maka akan selalu ada Engkau yang terukir dari goresan pena yang aku tulis. sekali lagi, untuk kesekian kali tak terhitung ini yang keberapa, aku berucap syukur. terimakasih. jika harus membuka lembaran lama untuk mengingat kapan terakhir kali aku meminta Engkau mengirimkan aku seseorang yang bisa membuatku nyaman dengan terukir senyuman tanpa henti, Engkau mengabulkannya Tuhan. aku tahu, tidak ada sebuah proses yang instant. dua tahun lalu rasanya aku mengingat patah hati yang aku rasakan. kemudian sekarang, detik ini juga Engkau menemukanku dengannya, memperkenalkanku bagaimana merasakan debaran asing itu lagi. membuncah dan meletup terus berbaur dalam degupan jantungku.
Tuhan, untuk kesekian kalinya juga aku berkata, aku mencintai-Mu. sungguh-sungguh mencintai-Mu.
Tuhan, untuk kesekian kalinya juga aku berkata, aku mencintai-Mu. sungguh-sungguh mencintai-Mu.
Minggu, 28 Agustus 2011
Tuhan, aku takut salah jalan. aku takut jatuh karena rasa sayang. aku bimbang, mana langkah yang harus aku tempuh. aku tak lelah memandanginya meski aku sadar ini salah. Tuhan, aku takut perasaan ini salah. jika memang aku harus berhenti kemudian mundur, aku mohon tuntun aku perlahan. tunjukkan aku Tuhan, aku mohon. aku tak ingin menangis lagi hanya karena rasa sesak yang menghimpitku perlahan dalam hati.
jika saja aku bisa memilih, jika saja perasaan bisa dibendung karena kehendak hati, aku ingin bisa melakukannya. tapi ini manusiawi, aku mengerti. tapi aku mohon, lindungi aku dari keserakahan saat aku ingin memilikinya
jika saja aku bisa memilih, jika saja perasaan bisa dibendung karena kehendak hati, aku ingin bisa melakukannya. tapi ini manusiawi, aku mengerti. tapi aku mohon, lindungi aku dari keserakahan saat aku ingin memilikinya
Rabu, 24 Agustus 2011
Tuhan, aku baru saja membuka lembaran kertas putih yang baru. menuliskan judul dengan mengukir hurufnya secara perlahan. aku baru saja melangkah dengan lingkungan yang baru, Tuhan. situasi yang sama sekali berbeda, memulai cerita dengan orang-orang yang tak lagi sama. Tuhan, aku mau cerita yang bisa menggoreskan tinta warna cerah di atas kertas putih yang baru saja aku buka.
Tuhan, aku sudah dewasa sekarang. aku tak lagi bisa disebut sebagai remaja. Tuhan, bisakah Kau kirimkan satu orang saja, yang bisa menemaniku kala aku sedih maupun bahagia? aku hanya butuh satu Tuhan, aku tidak meminta begitu banyak orang. aku merasa sepi saat harus menangis sendiri di tengah lampu yang padam di sebuah ruangan yang tiap hari aku singgahi. dan aku lelah jika harus tertawa sendiri saat aku merasa bahagia yang membuncah tanpa tahu kemana arah aku harus berbagi. bisakah, Tuhan? aku bosan mengalami sepi setiap malam. aku ingin ada yang bertanya padaku 'apa yang sedang kau pikirkan?' ketika raut wajahku berubah sedih. aku juga ingin ada bahu yang bisa menjadi sandaranku ketika aku tersenyum bahagia.
Tuhan, jika kebahagiaan bisa menghapus kesedihan dalam satu jentikkan jari saja, aku mau merasakannya walau hanya sekedipan mata. aku hanya lelah merasa sepi kemudian harus menangis sendiri. aku tahu Tuhan, Kau selalu memberikan apa yang aku butuhkan. Kau tahu bahwa aku mencintaimu. sangat sangat mencintaimu...
Tuhan, aku sudah dewasa sekarang. aku tak lagi bisa disebut sebagai remaja. Tuhan, bisakah Kau kirimkan satu orang saja, yang bisa menemaniku kala aku sedih maupun bahagia? aku hanya butuh satu Tuhan, aku tidak meminta begitu banyak orang. aku merasa sepi saat harus menangis sendiri di tengah lampu yang padam di sebuah ruangan yang tiap hari aku singgahi. dan aku lelah jika harus tertawa sendiri saat aku merasa bahagia yang membuncah tanpa tahu kemana arah aku harus berbagi. bisakah, Tuhan? aku bosan mengalami sepi setiap malam. aku ingin ada yang bertanya padaku 'apa yang sedang kau pikirkan?' ketika raut wajahku berubah sedih. aku juga ingin ada bahu yang bisa menjadi sandaranku ketika aku tersenyum bahagia.
Tuhan, jika kebahagiaan bisa menghapus kesedihan dalam satu jentikkan jari saja, aku mau merasakannya walau hanya sekedipan mata. aku hanya lelah merasa sepi kemudian harus menangis sendiri. aku tahu Tuhan, Kau selalu memberikan apa yang aku butuhkan. Kau tahu bahwa aku mencintaimu. sangat sangat mencintaimu...
Rabu, 13 Juli 2011
rasanya kosakata sudah tak ada lagi untuk mengungkapkan semua ini secara spontan. aku bahkan bingung harus mengekspresikan dengan cara apa lagi untuk membuat semuanya sedikit berkurang.
aku rela menangis persis seperti beberapa bulan lalu hanya untuk melihat tatapanmu. tapi sekarang, mengenangpun sudah sulit, bagaimana aku harus menangis?
aku rela menangis persis seperti beberapa bulan lalu hanya untuk melihat tatapanmu. tapi sekarang, mengenangpun sudah sulit, bagaimana aku harus menangis?
aku benci adaptasi lagi. benci kalo harus meneliti lagi sifat tiap orang dengan cermat. terlalu cukup aku merasakan trauma. sampai sekarang pun aku sulit percaya dengan orang lain. sulit untuk berinteraksi dengan baik. sensitif. aku hanya takut untuk merasakan kekecewaan hanya karena dikhianati sahabat yang dulunya dipercaya tapi malah perlahan berjalan pelan menyusup menghancurkan kebahagiaan yang aku bangun dengan susah payah. bahkan kadang aku ingin jadi egois meski itu sulit. aku hanya menutup diri.
Langganan:
Postingan (Atom)