Sabtu, 28 Mei 2011

aku benci ketika aku mulai merasa ringkih
aku benci ketika 2 tahun lalu tahu bahwa mungkin aku komplikasi tapi ringan (mungkin)
aku benci ketika aku tahu bahwa suplai oksigen di otakku tak seimbang
aku benci ketika tahu bahwa liverku sedikit ada masalah
aku benci ketika aktivitasku harus sedikit dibatasi
aku benci ketika ususku mulai kontraksi maksimal membuatku menjerit kesakitan
aku benci ketika mendapati diriku sedang tertawa riang kemudian tercekik kenyiluan yang sangat tepat di benjolan bagian belakang kepalaku
aku benci ketika tahu bahwa aku tak bisa lagi selincah dulu
aku benci ketika tahu bahwa aku harus mulai rajin terapi
seperti dulu lagi
sungguh, aku benci

Rabu, 25 Mei 2011

kala itu aku pernah berjanji bahwa aku akan berhenti menanti
tapi sampai saat ini, aku masih saja berdiri dalam diam
aku sadar bahwa jawaban masih terasa samar tanpa kenyataan
jika saja aku bisa berteriak, menunjukkan pada dunia bahwa aku lelah
aku bisa saja terjatuh kemudian, tanpa uluran tangan
pun aku bisa saja menoleh ke belakang kemudian mundur perlahan
tapi itu nanti
ketika huruf tak lagi mampu mengungkap cerita
ketika kaki tak lagi mampu menopang lelah
ketika debaran ini tak lagi ada
tapi lihat aku!
bahkan aku masih bergeming di sini
di antara sepi
di antara rindu yang perlahan mengerak tanpa bisa dielak

Senin, 16 Mei 2011

ketika rindu tetap memuncak tanpa tahu apa yang dia tunggu,
ketika itu aku ingin waktu berputar ke belakang
bukan untuk mengulang, tapi untuk sekedar mengingat bening mata itu agar tak pernah terhapus dari ingatan
bagaimana aku bisa terus berjalan jika penantian tak pernah menemukan ujung sebuah jalan?
dan bagaimana aku bisa menentukan langkah jika aku sedang berda di tengah jalan bertuliskan persimpangan?
jika saja semuanya bisa direfleksikan melalui sebuah proyeksi besar layar kehidupan,
seharusnya aku tak perlu lagi memejamkan mata menyesapi malam,
mengingat sepasang mata yang berbekas dalam rekaman

Sabtu, 14 Mei 2011

3rd project: di balik hujan

status: processing
kala itu aku pernah berjanji bahwa aku akan berhenti menanti
tapi sampai saat ini, aku masih saja berdiri dalam diam
aku sadar bahwa jawaban masih terasa samar tanpa kenyataan
jika saja aku bisa berteriak
menunjukkan pada dunia bahwa aku lelah
aku bisa saja terjatuh kemudian tanpa uluran tangan
pun aku bisa saja menoleh ke belakang kemudian mundur perlahan
tapi itu nanti
ketika huruf tak lagi mampu mengungkap cerita
ketika kaki tak lagi mampu menopang lelah
ketika debaran ini tak lagi sama
tapi lihat aku
bahkan aku masih bergeming di tepat yang sama
di antara sepi
di antara rindu yang perlahan mengerak tanpa bisa di elak

Selasa, 03 Mei 2011

melepas setengah jiwa untuk pergi masih jauh lebih sulit dibanding melepas satu hati untuk pergi meski takkan kembali. dan jiwa itu kamu
jika saja senja tak pernah merenda merah
hujan tiada pernah mencair
ombak tiada pernah menggulung
pilu tiada pernah mencinta di hati
dan sendu tiada pernah merasuk di kalbu
rindu
pilu sembilu
aku curahkan tinta ujung pena
tiada tertembus

Senin, 02 Mei 2011

saya sadar bahwa saya punya pribadi yang tertutup. terlebih lagi, saya sering disadarkan dengan salah satu Om yang memang punya kelebihan membaca sifat dari segi manapun. dan tadi malam, rasanya saya seperti di telanjangi. bagaimana ia membaca segala sifat saya. mulai dari wajah, garis tangan, tanda tangan, tulisan, warna kesukaan, sampai bentuk segitiga yang saya suka. Guess! dan memang semua terbukti benar.
bahwa saya memang punya pribadi yang tertutup.
bahwa saya memang punya pribadi yang misterius.
bahwa saya memang sulit ditebak.
bahwa saya memang punya ke konsisten-an yang tinggi
bahwa saya memang selalu 'memilih' jika berteman. saya benci orang yang 'bertopeng' baik di depan tapi buruk di belakang. ngomongin orang di belakang sih menurut saya wajar. tapi kalo sudah kelewatan, dan omongan mereka sudah kelewat batas dan tak tahu aturan, oh please. jangan harap saya bisa berteman dengan baik dengan kalian. saya bosan menemui orang seperti itu. mencacati segala perbuatan dan sikap  orang. sudahlah, itulah mereka. jangan sok sempurna. saya tidak munafik. saya juga kadang sering ngomongin orang di belakang. tapi saya tahu batas. karena saya sadar, bagaimanapun, pasti masih ada kekurangan yang lebih besar yang tersembunyi dalam pribadi masing-masing.
kalian. betapa saya ingin selalu teriak tiap berada di antara kalian. bahwa saya benar-benar tak nyaman berada di antara kalian. sungguh saya tidak nyaman.