aku masih mengingat, dua bulan lalu aku berada dalam kebimbangan, kemana seharusnya kesempatan SNMPTN jalur undangan ini aku putuskan? sempat terbersit, sedikitpun aku gak mau kuliah di luar kota. Mama juga setengah rela membayangkan anak bungsunya jauh darinya. beda dengan Papa yang ngotot ingin melihat anaknya mengenyam pendidikan dokter gigi di kota orang. kemudian aku diam. lama. kemudian Papa mengubah pikiranku. Papa bilang,
"jangan pandang kotanya. tapi cintai universitasnya. kalau ternyata yang gak kamu inginkan itu malah membuat kamu sukses nantinya, kamu mau bilang apa?"
Papa benar. apa salahnya mencoba? ya. pilihanku di luar kota juga akhirnya. tapi kala pengumuman itu tiba, tak ada kata "LULUS" di hadapanku. tapi bahkan masih ada tawa riang yang tersungging di bibirku. aku tahu, Tuhanku takkan pernag mengecewakan aku. akan selalu memberikan yang terbaik untukku.
lagi. kemudian Papa bilang, waktu pilihan untuk SNMPTN tulis datang,
"jangan Nak, kamu di disini saja ya. biar gak jauh. nanti kalau kamu jauh dari rumah, siapa yang jaga kamu? nanti papa jadi gak bisa nilai sapa yang pacaran sama kamu" kilahnya